DILEMA REMAJA: MEMILIH CITA-CITA SESULIT MEMILIH JODOH?
10 Jun 2026

Apakah menentukan cita-cita dan karir adalah perkara sulit? Apa yang membuat para anak remaja kita begitu meragu tentang cita-cita mereka? Survei Semua Murid Semua Guru (SMSG) menunjukkan bahwa 90% mahasiswa di Indonesia mengalami kebimbangan karier saat memilih jurusan kuliah dan bahkan 87% dari mereka merasa salah dalam memilih jurusan. Merasa salah memilih jurusan nampaknya dapat sama menyedihkannya dengan merasa salah  memilih jodoh. Bagaimana tidak? Kesalahan dalam memilih jurusan kuliah ternyata bisa membuat individu tidak enjoy dalam kuliahnya: mulai dari tidak menyukai bidang studi yang terlanjur dipilih, tidak bisa mengikuti kuliah dengan baik, tidak merasa bahagia, sulit bergaul, bahkan bisa drop out.

Para ahli mengatakan bahwa terdapat banyak hal yang dapat membuat remaja bimbang dalam menentukan jalur karirnya: mulai dari usia, jenis kelamin, ketakutan dalam keberhasilan, penilaian diri yang rendah, kurangnya kesadaran diri, kecemasan hingga keterampilan sosial yang rendah. Namun, dari sekian banyak faktor tersebut, adakah pembawaan individu turut menyumbang perasaan galau dalam menentukan karir?

Penelitian Akmal (2019) pada pelajar kelas XII SMA menjawab pertanyaan tersebut dengan temuan mengejutkan. Terdapat sebuah sifat individu yang secara signifikan membuat kegalauan seseorang dalam menentukan pilihan karirnya lebih kronis dibandingkan orang lain. Yang pertama adalah kecemasan. Remaja yang cenderung mudah cemas lebih rentan mengalami kegalauan berlarut-larut dalam memilih cita-cita. Mengapa demikian? Kecenderungan pencemas pada sebagian remaja membuat seseorang memiliki perasaan yang kurang stabil, dapat mengarah ke depresif, dan kesulitan mengontrol dorongan-dorongan dari dalam diri. Kondisi tersebut membuat remaja kesulitan dan penuh keraguan dalam mengambil berbagai keputusan, termasuk dalam karir.

Sebagai lawan dari karakter pencemas, Akmal menemukan bahwa karakter remaja yang terbuka pada pengalaman baru menjadi sifat yang memudahkan remaja menentukan karir. Remaja yang terbuka pada pengalaman baru menikmati menjelajahi berbagai informasi baru yang relevan dengan minat karirnya. Wawasan yang dihasilkan dari informasi-informasi yang dikumpulkan menjadi pereda bagi kebimbangan karir yang dirasakan. Tidak hanya sampai disitu, karakter remaja yang terbuka terhadap informasi dan pengalaman baru juga  membantu individu dalam menyesuaikan diri ketika sudah menjalani pilihan kariernya. Keterbukaaan terhadap pengalaman baru mengubah semua tantangan menjadi pintu pengalaman baru sehingga alih-alih gentar, remaja malah menggebu-gebu dalam mengembangkan diri.

Dilema keputusan karir adalah episode mendebarkan bagi babak kehidupan remaja kelas XII. Memilih karir berarti memilih jalan hidup dan identitas masa depan yang melekat pada diri mereka kelak. Alih-alih mendikte pilihan, orangtua dan guru perlu mengenali keunggulan maupun kesulitan yang dimiliki siswa dalam memutuskan karir. Kesalahan maupun keraguan dalam pemilihan jurusan dapat berefek sama dengan penyesalan salah memilih jodoh, menyebabkan remaja menjadi enggan berkomitmen dan bertanggungjawab atas pilihan mereka. Berdasarkan temuan Akmal, orangtua dan guru sebaiknya mengenali kecemasan pada siswa yang mengalami kebimbangan karir. Kecemasan pada siswa perlu diredakan dengan melatih siswa mengendalikan kecemasannya dan mencari solusi dari ketakutan dalam pengambilan keputusan karir. Di sisi lain, siswa juga dapat didorong agar berinisiatif untuk mengumpulkan informasi mengenai karier yang ingin ditekuninya, sehingga wawasan mereka memadai dalam membuat keputusan karir yang mantap dan jelas.

 

Ditulis oleh: Deane F.

Berdasarkan penelitian (baca paper penelitiannya disini!): https://ejournal.undip.ac.id/index.php/psikologi/article/view/19649/pdf

Source gambar: Pinterest

ARTIKEL LAINNYA
Kesuksesan bagi Wanita Karir Indonesia, seperti apa?
Selengkapnya
Kolektivisme dan Efikasi Diri: Energi Insan Heroik Indonesia
Selengkapnya
Berkenalan dengan University in Diversity, jalan mencapai Bhinneka Tunggal Ika
Selengkapnya
“Diduga Depresi, Seorang X Bunuh Diri”: Catatan Psikologi Untuk Jurnalisme Dan Masyarakat Indonesia
Selengkapnya
Aborsi Legal Sebagai bagian Hak Asasi Manusia
Selengkapnya
COPYRIGHT @ 2019 - DEDIKASI PSIKOLOGI