Indonesia telah dikenal dunia sebagai salah satu bangsa yang majemuk dalam berbagai hal: suku, budaya, kekayaan alam, dan lain sebagainya. Kemajemukan tersebut mewariskan identitas sosial yang jamak bagi masyarakat Indonesia. Menilik ke sejarah, para pendiri negara berusaha keras mengikat keragaman, kemajemukan dan kejamakan yang dimiliki setiap insan bangsa Indonesia untuk bersatu di bawah bendera merah putih. “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai semboyan pemersatu bahkan dipatri pada lambang negara untuk menegaskan bahwa bangsa ini memang dibangun oleh keragamaan yang teguh untuk bersatu.
Burhan, Nauly, Purba, Sinulingga, dan Irmawati (2022) dalam penelitiannya mencoba untuk menemukan karakteristik “Bhinneka Tunggal Ika” dalam psikis individu. Studi tersebut menerjemahkan “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai kondisi ketika terdapat keselarasan identitas suku bangsa dan nasional seorang individu. Keselarasan antara identitas suku bangsa dan identitas nasional menandakan individu mampu menghayati kedua identitas dengan baik dan tidak mengalami konflik atas kedua identitas maupun menganggap keduanya bertentangan. Individu merasa terikat dengan suku bangsa yang dimiliki sekaligus terikat pada bangsa sebagai faktor penyatu.
Dalam perspektif psikologi, manifestasi “Bhinneka Tunggal Ika” dalam diri individu ditandai dengan korelasi positif antara identitas suku bangsa dan identitas nasional individu. Kondisi tersebut dapat terwujud melalui penghayatan universal-diverse orientation pada diri seseorang. Universal-diverse orientation adalah kesadaran dan penerimaan seseorang terhadap persamaan dan perbedaan individu dari latar belakang sosial dan budaya yang berbeda (Miville et al., 1999). Universal-diverse orientation pada diri seseorang memunculkan kemampuan: (1) berinteraksi dengan beragam kelompok individu (memiliki beragam kontak); (2) menyadari dan menghargai persamaan dan perbedaan yang ada antara individu (apresiasi relatifistik); dan (3) memiliki rasa nyaman dengan perbedaan antara individu dari latar belakang sosial dan budaya yang berbeda (Kegel & DeBlaere, 2014).
Peran universal-diverse orientation dalam mewujudkan “Bhinneka Tunggal Ika” di tengah masyarakat Indonesia ternyata sangat krusial. Penelitian Burhan, Nauly, Purba, Sinulingga, dan Irmawati (2022) mengungkapkan universal-diverse orientation menentukan dinamika pertumbuhan identitas kesukuan dan identitas nasional seseorang. Individu yang memiliki universal-diverse orientation yang tinggi akan mengalami pertumbuhan identifikasi suku bangsa (identitas suku bangsa) yang beriringan dengan peningkatan identifikasi nasional (identitas nasional). Sebaliknya, individu dengan universal-diverse orientation yang rendah tidak mengalami keselarasan pertumbuhan identitas kesukuan dan identitas nasional. Temuan tersebut mengindikasikan potensi bahaya fanatisme kesukuan akan mengalahkan nasionalisme bila universal-diverse orientation tidak dipupuk di tengah masyarakat Indonesia yang multikultural. Promosi dan sosialisasi universal-diverse orientation perlu giat digalakan demi keteguhan persatuan di nusantara.
Sumber artikel:
Burhan, O. K., Nauly, M., Purba, R. M., Sinulingga, R. F., & Irmawati. (2022). Universal-Diverse Orientation Promotes Congruent Ethnic and National Identities: A Preliminary Research Note: [Universal-Diverse Orientation Menguatkan Keselarasan Identitas Suku Bangsa dan Nasional: Catatan Penelitian Preliminer]. ANIMA Indonesian Psychological Journal, 37(2), 202-216. H
Sumber gambar:
https://lamrimnesia.org/2021/09/03/bhinneka-tunggal-ika-warisan-buddhis-indonesia/
Baca artikel aslinya disini!
https://journal.ubaya.ac.id/index.php/jpa/article/view/4655