Pahlawan adalah tokoh yang menyimbolkan kebaikan, perjuangan dan pengorbanan demi orang lain. Bangsa ini terbebas dari penjajahan karena perjuangan para pahlawan yang rela berkorban nyawa. Namun, pahlawan tidak hanya muncul di medan perang. Pahlawan dapat muncul dimanapun saat tenaga, pikiran bahkan nyawa dipertaruhkan demi keselamatan orang banyak seperti medan musibah. Saat musibah terjadi, sekelompok pahlawan nampak muncul dan bergerak tanpa lelah untuk memberikan bantuan serta usaha penyelamatan. Mereka dikenal dengan sebutan relawan bencana.
Menjadi relawan bencana bukanlah hal yang mudah dan menyenangkan. Selain mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan, relawan juga dengan sukarela ikut bertahan dalam keterbatasan dan penderitaan demi menolong para korban bencana. Meskipun dipandang baik, namun tidak semua orang bersedia dan mampu menjadi relawan bencana karena hal tersebut penuh tantangan bahkan dapat mengancam nyawa. Orang Indonesia seperti apakah yang mau menjadi relawan bencana?
Indonesia adalah negara bernuansa kolektivis. Hal tersebut ternyata menanamkan kebaikan dalam sanubari orang Indonesia. Kebudayaan kolektivis yang tertanam di diri seseorang membentuk dorongan untuk berperilaku prososial atau perilaku membantu. Nilai kolektivis membuat individu merasa bergantung pada orang lain dan cenderung menjadikan kelompok sebagai pertimbangan utama dalam berperilaku, sehingga ada perasaan keterikatan yang kuat dengan kondisi orang lain di sekitarnya, terlebih kondisi krisis. Kolektivisme menggerakkan manusia untuk segera bergerak membantu kesulitan yang terjadi di sekitarnya karena solidaritas yang kuat.
Bibit perilaku membantu lainnya dalam diri relawan bencana di Indonesia disemai oleh efikasi diri. Efikasi diri adalah keyakinan dan kompetensi individu ketika melakukan sesuatu. Relawan bencana dapat dipandang sebagai tugas untuk melakukan pengorbanan terhadap sesama anggota masyarakat. Keputusan seseorang untuk menjadi relawan tidak cukup hanya didorong perasaan solidaritas sesama, melainkan juga memerlukan keyakinan dan kompetensi seseorang bahwa ia dapat membantu alih-alih malah menyusahkan korban bencana.
Uraian di atas didasarkan pada penelitian Shadiqi, Handayani, Azizah, Aziza, dan Mayangsari (2022) yang berhasil menemukan ketegasan kaitan antara faktor budaya kolektivis dan efikasi diri dengan perilaku membantu yang dilakukan para relawan banjir. Keterkaitan yang ditemukan menjadi dasar penting dalam menggambarkan aksi heroik insan Indonesia yang ternyata tidak hanya bertumpu pada solidaritas, tetapi juga pada keyakinan diri dan kemampuan serta kompetensi praktis. Sehingga penting bagi pendidikan anak bangsa untuk tidak luput dalam mengembangkan efikasi diri peserta didik sebagai pendamping nilai kolektivis yang sudah mengakar secara alami dalam kehidupan masyarakat. Hal tersebut wajib dilakukan, terlebih pada wilayah rawan bencana agar regenerasi relawan bencana dapat berjalan baik.
Sumber artikel:
Shadiqi, M. A., Handayani, S. L., Azizah, A. N., Aziza, L. A., & Mayangsari, M. D. (2022). Strong Alone, Stronger Together: The Role of Collectivism, Individualism, Egoism, and Self-Efficacy in the Prosocial Behavior of Flood Volunteers: [Strong Alone, Stronger Together: Peran Kolektivisme, Individualisme, Egoisme, dan Efikasi Diri Pada Perilaku Prososial Relawan Banjir]. ANIMA Indonesian Psychological Journal, 37(2), 217-243. https://doi.org/10.24123/aipj.v37i2.5030
Sumber gambar:
Instagram @gundalaofficial
Baca artikel aslinya disini!