Untuk siapa sebenarnya seorang wanita mempercantik diri? Benarkah secara alami wanita ingin menjadi cantik karena kodrat penciptaan wanita sebagai ‘makhluk indah’? Atau karena dorongan dan perjuangan atas nama evolusi untuk menarik perhatian lawan jenis? Penelitian Zulfiyah dan Nuqul (2019) dari Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang mengungkap fakta di balik pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dalam riset yang menguji pengaruh sexism (seksisme) dan self esteem terhadap terjadinya self objectification pada mahasiswi, ditemukan bahwa seksisme lebih mempengaruhi fokus mahasiswi terhadap fisiknya, sementara self esteem (harga diri) malah tidak berdampak pada fokus mahasiswi pada kecantikan fisik atau self-objectification.
Self objectification merupakan pandangan seseorang terhadap kualitas fisik dengan memprioritaskan tampilan ketimbang kondisi fisik yang tidak tampak. Self objectification membuat seseorang merasa tak mengapa mengorbankan kesehatan hingga malnutrisi demi tampil langsing, tidak mengapa kesakitan memakai high heels asal dapat terlihat tinggi semampai, dan lain sebagainya. Ternyata self objectification sama sekali tidak dipengaruhi oleh harga diri wanita. Tidak peduli apakah seorang wanita memiliki harga diri yang kurang maupun tinggi terhadap dirinya, semua wanita akan mengutamakan penampilan fisik ketimbang kenyamanan dan kesehatan dirinya jika ia memiliki pandangan seksisme.
Seksisme adalah sikap dan keyakinan streotip seseorang mengenai gender mana yang paling unggul. Seksisme tidak memandang wanita dan pria diciptakan untuk hidup berdampingan begitu saja. Seksisme biasanya menempatkan wanita sebagai gender yang lemah. Seksisme merupakan paham yang dapat ditemui di berbagai budaya, termasuk di Indonesia. Seksisme tidak hanya dimiliki pria terhadap wanita, namun juga wanita terhadap kaum wanita di masyarakatnya.
Seksisme terdiri dari dua jenis, yakni seksisme kebajikan (benevolent sexism) dan seksisme bermusuhan (hostile sexism). Seksisme kebajikan memandang peran wanita dan pria dalam konteks yang baik secara subyektif namun tidak adil. Wanita dan pria bukan lawan yang harus bersaing, namun keberadaan pria harus banyak berperan bagi wanita. Wanita harus dilindungi, disayangi, dimanjakan oleh pria karena wanita adalah makhluk yang rapuh. Wanita mungkin sering nyaman dengan seksisme kebajikan ini, tanpa menyadari bahwa perlakuan baik tersebut berlandaskan keyakinan bahwa wanita itu lemah. Seksisme bermusuhan meletakkan peran pria dan wanita sebagai rival yang harus selalu berkompetisi untuk mendominasi dan unggul dalam kehidupan. Seksisme bermusuhan menjadikan individu meyakini wanita merasa perlu mengontrol dan menguasai pria, begitu juga sebaliknya. Hidup adalah pacuan untuk melihat gender mana yang menang di berbagai aspek kehidupan.
Seksisme mepengaruhi pandangan wanita terhadap kecantikan fisik karena wanita selalu merasa harus melakukan sesuatu untuk dicintai maupun dikagumi pria. Seksisme menjadikan individu percaya bahwa keberadaan wanita haruslah ‘berarti’ bagi pria. Penampilan fisik yang cantik merupakan pencapaian yang perlu diraih wanita untuk memenuhi keyakinan seksisme ini. ‘Dengan menjadi cantik, wanita akan layak dicintai pria’....‘Dengan menjadi cantik, wanita dapat menaklukan pria’.
Meskipun kedua jenis seksisme mempengaruhi self objectification, namun seksisme kebajikan memiliki pengaruh yang lebih besar ketimbang seksisme bermusuhan. Ini menunjukkan bahwa usaha wanita untuk menjadi cantik lebih didorong oleh keinginan untuk mendapatkan perlakuan baik dari pria. Di sisi lain, self objectification juga dapat dipicu keyakinan bahwa outer beauty didorong oleh sisi kompetitif dan keinginan mendominasi seorang wanita terhadap pria di sekelilingnya. Ini menunjukkan dalam budaya kita, kecantikan wanita lebih banyak ditujukan agar memperoleh kasih sayang dari pria ketimbang untuk menaklukan seorang pria. Lebih banyak wanita yang bersusah payah cantik untuk dicintai daripada untuk menguasai pria. Sulit untuk diakui, namun demikian fakta yang terungkap dalam penelitian ini.
Disadari maupun tidak, nyatanya wanita dalam budaya kita memang berdandan karena keberadaan pria di sekitarnya. Penghargaan seorang wanita terhadap dirinya sama sekali tidak mendorong seorang wanita untuk mempercantik fisiknya. Wanita bukan cantik demi dirinya, namun demi pria di bumi ini.
Ditulis oleh: A R M N
Sumber gambar ilustrasi: Pinterest
Baca artikel penelitiannya disini! http://jurnal.unissula.ac.id/index.php/proyeksi/article/view/4180